Persinas ASAD

Persinas Asad (Ampuh Sehat Aman Damai)

Persinas ASAD Samarinda Lahirkan Tiga Juara Dunia

Posted by persinas pada April 2, 2011


Samarinda – Perguruan Silat Nasional (Persinas) ASAD Samarinda telah mencetak beberapa pesilat berprestasi. Di antaranya Abdul Mukid, Zakki Imaduddin, dan Eka Purbianto. Ketiganya menyumbangkan medali emas di Kejuaraan Dunia Pencak Silat 12-17 Desember 2011 lalu dan mengantarkan Indonesia sebagai juara umum.

LAPANGAN milik Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Islam itu tak seberapa luas. Hanya sekitar 20 x 15 meter. Lokasinya terhimpin di antara kepadatan pemukiman di tengah jantung Kota Samarinda, yaitu di Jl Wolter Monginsidi Gang 7, RT 21, Dadimulya, Samarinda Ulu. Tepat di depannya berdiri bangunan dua lantai Masjid Nurul Islam. Selain ponpes, lokasi itu juga menjadi sekretariat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kaltim.
Tak hanya itu, lokasi ponpes itu juga menjadi sekretariat Pengurus Cabang Perguruan Silat Nasional (Persinas) ASAD. Pada Selasa (29/3) malam lalu, anak-anak usia belasan menggunakan lapangan ponpes itu untuk berlatih pencak silat. Semuanya laki-laki. Perguruan ini memang belum menerima murid perempuan. Anak-anak ini tampak bersemangat dan kompak melakukan gerakan-gerakan silat yang diajarkan sang pelatih.
Meski terhimpin di pemukiman, perguruan pencak silat ini sudah berhasil mencetak beberapa atlet berprestasi. Di antaranya Abdul Mukid (25), Zakki Imaduddin (22), dan Eka Purbianto (19), yang mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia. Ketiganya berhasil meraih medali emas di kelas Seni Beregu Putra pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat tanggal 12-17 Desember 2010 lalu. Sebelumnya tiga anak muda ini sudah meraih emas saat Sukan Borneo 2009 dan PON XVII/2008.
Tiga pesilat remaja lainnya, yakni Albim Adi Prasetyo, Achmad Ardiko Maulana, dan Ferdaus Attir Midhi berhasil meraih emas di Pekan Olahraga dan Seni Pesantren Nasional (Pospenas) 2010. Tiga siswa SMA di Samarinda ini sekarang digembleng agar bisa mengikuti jejak ketiga seniornya. Ada juga Muhammad Wildan, menjadi juara pertama Kelas Seni Tunggal di Kejuaraan Daerah tahun 2009 memperebutkan piala Gubernur Kaltim.
Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Persinas ASAD Samarinda Joko Sriwidodo mengatakan, Persinas ASAD memiliki sekitar 190 anak didik yang dibimbing sekitar 10 pelatih. Usianya antara 12 tahun sampai 40 tahun. Mereka berlatih dua kali dalam sepekan, yaitu Selasa malam dan Jumat malam, di lapangan Ponpes Nurul Islam. Di antara anak-anak usia belasan tahun itu, digembleng untuk menjadi atlet berprestasi.
“Persinas ASAD di Kaltim mulai aktif tahun 2000. Di Samarinda, kami sudah mempunyai 6 ranting (pengurus ranting/pengran, Red.), masing-masing berada di kecamatan. Sementara di Indonesia saat ini sudah terbentuk 33 pengurus (pengcab),” papar Joko didampingi Sekretaris Pengcab Persinas ASAD Sugiyanto dan Koordinator Pelatih Bimo Suparmo, kepada Kaltim Post, beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, setiap tahun Pengcab Persinas ASAD mengadakan kejuaraan untuk mencari bibit-bibit pesilat andal. Semua ranting diadu. Yang terbaik akan menjadi wakil di kejuaraan daerah dan bila berprestasi akan dilanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi. Tahapan-tahapan ini katanya, telah dilalui Abdul Mukid, Zakki Imaduddin, dan Eka Purbianto, sampai akhirnya mereka menjadi juara dunia.
“Awalnya, masing-masing dari ranting yang berbeda. Mukid dari ranting Loa Kulu, sementara Zakki dan Eka dari Bontang. Mereka bergabung di Persinas ASAD sekitar tahun 2001. Sebelumnya mereka tak saling kenal. Melihat bakat ketiganya, kami kemudian menyatukan mereka di Kelas Seni Beregu,” jelas Joko dan dibenarkan Bimo Suparmo.
Pria yang juga ketua Bidang Usaha dan Dana Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Samarinda menambahkan, ada beberapa hal yang menjadi perhatikan saat menyatukan ketiganya di Kelas Seni Beregu. Di antaranya dari sisi fisik harus sama, seperti postur badan sama, wajah mirip, hingga ke rambut. Setelah itu mereka juga harus kompak mental, karena Seni Beregu sangat menuntut kekompakan.
“Bila salah satu saja tak bersemangat, gerakan tak akan sempurna. Bila salah satu melakukan gerakan keliru sedikit saja, penilaian dipastikan akan berkurang. Karena itu mereka harus benar-benar kompak, tak hanya fisik, melainkan juga pikiran dan mental harus sama-sama fokus agar menghasilkan gerakan yang baik dan seragam,” tambah sang pelatih, Bimo Suparmo.
Bimo juga menjelaskan, di kejuaraan silat kelas seni ada 3 kelas yang dipertandingkan. Yaitu Seni Beregu terdiri dari 3 pesilat, Seni Ganda terdiri 2 pesilat, dan Seni Tunggal yang terdiri seorang pesilat. Untuk Seni Ganda dan Tunggal selain jurus tangan kosong, juga menggunakan alat, yaitu golok dan toya. Khusus Seni Ganda ditambah dengan alat lain, seperti keris, clurit, atau trisula. Sementara Seni Beregu hanya gerakan tangan kosong.
“Kelas Seni Beregu sangat menonjolkan kekompakan gerak. Bagian yang menjadi penilaian adalah kerapian, hafal juru atau kebenaran jurus, dan penghayatan. Selain itu juga dinilai power (tenaga pukulan, Red.) dan ketepatan waktu. Untuk satu kali tampil diberi waktu 3 menit. Namun ada toleransi 5 detik lebih cepat dan lebih lambat. Bila melewati batas toleransi nilai akan berkurang, tapi bila tepat waktu akan mendapat nilai plus,” ujarnya.
Dia menuturkan, meski sebelumnya tak kenal, Mukid, Zakki, dan Eka cepat beradaptasi. Ketiganya bisa tampil maksimal di kejuaraan cabang (kejurcab) dan berhasil menjadi juara pertama. Begitu pula ketika di kejuaraan daerah (kejurda), dan Pospenas. Meski tak sempat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim, namun ketiganya mewakili Kaltim di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII/2008 dan lagi-lagi berhasil menyumbangkan medali emas untuk Kaltim.
Atas keberhasilan ini IPSI Pusat kemudian mengikutkan ketiganya mewakili Indonesia di Pekan Olaharaga Antar-Negara di Kalimantan atau Sukan Borneo 2010. Ketiganya berhasil mengalahkan Malaysia dan merebut medali emas. Puncaknya, ketika ketiganya kembali berhasil meraih medali emas di Kejuaraan Dunia 12-17 Desember 2010 lalu. Ketiganya berhasil menyisihkan ratusan pesilat dari 32 negara.
“Ketiga mampu mengalahkan pesaing terberat Indonesia, yaitu Vietnam, Malaysia, dan Brunei. Waktu itu pesilat Vietnam hanya melakukan kesalahan gerak sedikit, namun itu sudah mengurangi penilaian juri,” ujar Bimo. “Untuk kelas seni seperti ini memang sangat dituntut sportivitas juri, karena yang dinilai sangat kuantitaif. Untuknya saat pertandingan itu juri sangat sportif,” tambahnya.
Atas prestasinya itu, Pemprov Kaltim mengangkat Mukid dan Zakki sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim. Sementara Eka belum menjadi PNS karena baru saja lulus SMA. Saat ini ketiganya sedang mengikuti trainning Centre (TC) untuk persiapan menghadapi SEA Games Jakarta Palembang 11-25 November 2011 nanti. Ketiga ditarget harus kembali menyumbangkan medali emas untuk Indonesia.
“Setelah mengikuti Kejuaraan Dunia Pencak Silat Desember 2010 sampai sekarang kami tak bertemu mereka. Mereka langsung mengikuti TC di Jakarta untuk persiapan SEA Games. Mudah-mudahan ketiganya kembali mencetak prestasi, sehingga tak hanya mengharumkan nama daerah tetapi juga Indonesia,” tambah Joko.
Setelah melahirkan tiga pesilat kelas dunia, Joko mengatakan Persinas ASAD sudah menyiapkan tiga pesilat muda yang juga berpotensi. Ketiganya adalah Albim Adi Prasetyo, Achmad Ardiko Maulana, dan Ferdaus Attir Midhi, yang baru saja meraih medali emas di Pospenas 2010 lalu. “Kami ingin terus berupaya mencetak atlet-atlet berprestasi dari daerah. Kami ingin tunjukkan Kaltim juga bias menelurkan atlet-atlet kelas dunia,” ujar Joko dan dibenarkan Bimo. (ran)

Sumber: Kaltimpost.co.id

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: